Rabu, 25 November 2015

Istri vs Ibu mertua

Istri dan Sang Mertua .
BENARKAH mereka tidak akan pernah akur.
Itukah paradikma yg sudah mendarah daging di negeri kita ini ??

Dua kebiasaan & Dua sifat memang tak mudah untuk dipersatukan.
Terkadang masuk ke dalam kebiasaan atau  pola hidup yg baru memang tak mudah.

Mungkin itu yang akan dialami oleh wanita-wanita yang harus patuh dan taat kepada sang suami yang memilih tinggal bersama orang tua/Ibu tersayang .
Tapi kenapa sosok Ayah Mertua tak begitu di persoalkan ?
Yang diangkat justru hanyalah sosok sang Ibu Mertua dengan Menantunya kini ?


Mungkin sang Ayah tidak begitu tanggap meluapkan segala isi hati & emosi nya .
Tidak seperti sosok Ibu. Yang selalu menyampaikan nya dengan kata-kata
Bahkan terkesan "Cerewet".

Mungkin lain cerita bila kita pindah ke rumah baru dari hasil Suami Istri sendiri & membawa serta Orang tua Suami (Mertua) untuk tinggal bersama diBANDINGkan dengan kita (Sang Istri) yang tinggal bersama sang Orang tua (mertua) di rumah mereka.

KENAPA demikian ?

Sang Suamipun kini diposisi yang mungkin sulit baginya .
Bila sesuatu terucap dari mulut sang ibu tentang sang istri , tak bisa sang suami membantah atau menanggapi perkataan sang Ibu . Mungkin ini tanda patuh & taat nya kepada seorang Ibu .
Tapi haruskah sikap ini yang terus ditunjukkan ?
Semakin lama sosok Istri akan semakin tersudut :)

Suatu cerita berasal dari seorang Istri yang juga Wanita Karir .
Sang Mertualah yg merawat serta menjaga sang Anak/Cucu kesayangan.
Tapi apa ini sebuah pilihan ?
Adakah pilihan Lain ?
Sosok wanita sebagai Ibu bisa saja menjaga Anaknya sendiri dan meninggalkan Jabatan serta Penghasilannya di dunia perkantoran.Atau sosok wanita ini juga bisa membayar asisten rumah tangga khusus untuk menjaga & mengasuh sang anak, Bahkan pilihan terakhir Sang Anak di titipkan di tempat penitipan .

MUNGKIN kah ?
Yang mana yg HARUS dan PANTAS dipilih ?
Semua adalah pilihan & harus SIAP menanggung RESIKO apapun yg akan timpul.

Contoh 1.
Baiklah  kita titipkan saja di penitipan Anak di kantor qu, saya sanggup ko untuk bayar .
Sang Mertua : Gak usah lah sayang uang nya, mending di tabung ,biar aja Ibu yang rawat. Ibu masih sanggup ko .
Alhasil :
Sang Mertua/Nenek lah yg menjaga sang buah hati selama Sang Ibu mengemban tugas nya dengan Bekerja.
Merasa sama lelah dengan kegiatan masing" . Ini salah satu hal yang membuat sosok sang Istri mulai berselisih paham dengan sang Mertua .
"Saya sudah menjaga Anak mu yg rewel, nakal, gak bisa diam seharian,capek, lelah, letih  "
"Saya sudah bekerja dikantor seharian perjalanan jauh, pusing, kerjaan numpuk, capek , lelah, letih".
Sang Mertua : Tidakkah kau juga memasak untuk kami, membersihkan rumah sebelum & sepulang dari Bekerja .
Sang Menantu : Kerja seharian dengan perjalanan Jauh membuat badan ini terasa sangat Letih , karena seharian tidak berjumpa dengan Mother In Love nya , sang anak terkesan sangatlah Manja . Saat sebelum atau setelah pulang bekerja Anak kesayangan tak mau lepas dari Mama tercinta . Apa mau dikata :)

Jadi Bagaimana lah solusinya .
Sebenarnya inilah memang tugas seorang Istri , tapi apakah sanggup ia melepas semua .
Berarti kini Sosok Suami lah yang menurut saya sangat berperan .
Sang suami memang kepala Keluarga, ia adalah seseorang bagaikan RAJA yg kita sebagai Istri harus tunduk dan melayaninya dengan baik
NAMUN akankan hatinuraninya tak tergerak untuk kiranya menopang segala kesulitan sang Istri.

Apa yg harus dilakukan seorang Suami ??
Apapun, yang bisa ia lakukan.
Membantu pekerjaan Rumah Tangga ?
Mungkinkah ada sosok Suami yang masih mau dengan Ikhlas melakukannya.
Membantu menjaga & merawat sang buahati ?
Mungkin banyak suami yang dengan rela & Ikhlas melakukannya , namun seberapa tahankah Ia untuk menghadapi segala rewelan & tangisan sang buahati ?

Istri juga manusia biasa yg punya batas segala nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar